kinantan

kinantan

radio serunai



Winamp, iTunes Windows Media Player Real Player QuickTime Web Proxy

Memberdayakan bukan Memperdayai


http://csr.pkpu.or.id/

30 Juli 2012 09:22
Oleh: Mohamad Suharsono, Lc, MESy  *)


Pada tahun 2009 umat Islam dikejutkan oleh sebuah kejadian di Pasuruan Jawa Timur. Sebanyak 21 orang meninggal dunia di Pasuruan ketika mereka berdesakan untuk menerima zakat sebesar Rp 30.000 yang dibagikan oleh H. Syaikon. Distribusi seperti itu merupakan distribusi yang rutin dilakukan setiap tanggal 15 Ramadhan. Namun kali ini yang hadir ribuan orang tanpa ada pengamanan dari kepolisian desa setempat (liputan6.com). 


Kejadian tersebut merupakan pukulan bagi kaum muslimin dalam mengelola zakat, infak dan sedekah. Zakat yang semestinya dapat menyejahterakan para mustahiknya (penerimanya) bukan menghinakan mereka bahkan membinasakan. Karena zakat bukan merawat dan melanggengkan para mustahik dengan status mereka sebagai mustahik tetapi terjadi transformasi dari penerima menjadi para pembayar. Oleh sebab itu mesti diupayakan ketika distribusi bukan hanya sekedar distribusi tetapi distribusi yang memiliki nilai pemberdayaan dan juga mesti dipastikan siapa saja yang berhak menerimanya agar lebih tepat sasaran.

Penerima Zakat 
Allah SWT telah menentukan sasaran zakat di dalam Alquran surat At-Taubah ayat 60. “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dalam ayat tersebut, Allah SWT telah menjelaskan para penerima zakat, yaitu fakir, miskin, amil, muallaf yang dilembutkan hatinya, riqab (hamba sahaya), gharimin (orang yang terlilit hutang), fi sabilillah dan ibnu sabil(orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan). 

Ayat ini menunjukkan spesifikasi para penerima zakat untuk delapan ashnaf (golongan) saja dan tidak diperbolehkan kepada golongan lainnya. Hal tersebut dinyatakan Allah dalam huruf permulaan ayat ini yang berbunyi “innama”. Huruf “innama” dalam bahasa Arab menunjukkan huruf yang berfungsi meringkas atau mengkhususkan. Sehingga karena mengkhususkan, maka hanya delapan golongan saja yang berhak menerimanya.

Penentuan delapan golongan ini juga bukan ditentukan oleh manusia tetapi langsung oleh Allah SWT. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat yang mengajukan dirinya untuk menjadi para penerima zakat, Rasulullah menjawab dengan menyatakan bahwa Beliau tidak berhak menentukan suatu hukum yang bukan kewenangannya, sampai akhirnya Allah turunkan  ayat ini. 

Karakter atau watak zakat
Zakat memiliki karakter memberdayakan, maka ketika mendistribusikan diupayakan untuk memberdayakan kaum para mustahiknya. Mengupayakan mentransformasi dari penerima (mustahik) menjadi pembayar (muzaki). Melakukan pendampingan agar mereka lebih berdaya karena kemiskinan saat ini, bukan hanya miskin harta tetapi juga miskin ilmu, kesehatan dan yang lebih berbahaya adalah miskin azzam (tekad).

Dengan karakter atau watak ini maka:

-    Zakat tidak untuk memanjakan orang miskin yang malas
-    Memprioritaskan mustahik yang kontributif
-    Mendorong usaha mandiri dan takaful yang produktif
-    Dimenej untuk pemberdayaan masyarakat secara bertahap
-    Lambang kesejahteraan bukan kemiskinan, madani bukan jahili
 
Indikator kesuksesannya adalah bukan sekedar bertambahnya jumlah penerima tetapi bertambahnya jumlah penerima yang jadi lebih berdaya. Pada tahun ke 11 H ketika Muadz bin Jabal di Yaman mengumpulkan zakat terdapat 1/3 zakat tidak dapat didistribusikan di Yaman bukan tidak dibagi tetapi tidak bisa dibagi karena para penerimanya sudah mendapatkan hak mereka.

Lalu pada tahun berikutnya dikumpulkan zakat dan surplus ½ nya tidak bisa didistribusikan dan pada tahun ke 13 H seluruh dana zakat tidak dapat didistribusikan di Yaman. Akhirnya Amirul Mukminin Umar bin Khaththab menetapkan kebijakan mensubsidi ke daerah yang membutuhkan. Kejadian pada masa Umar bin Khaththab terulang kembali, zakat dapat memberdayakan para mustahik bukan memperdayai. Wallahua’lam bishawab.


*) Mohamad Suharsono, Lc, MESy | Biro Syariah PKPU | @M_Suharsono

0 komentar:

Posting Komentar

Link ke berbagai situs yang terkait dengan penyediaan informasi teknologi pertanian

maher zein

Loading...

Video kesenian minang

Loading...

Waroeng Serunai


Try Relay: the free SMS and picture text app for iPhone.