kinantan

kinantan

radio serunai



Winamp, iTunes Windows Media Player Real Player QuickTime Web Proxy

Hijrah dan Nilai-Nilai Perubahan


http://ahmadsamantho.wordpress.com/

BEBERAPA hari lalu, saat penanggalan masehi memasuki tanggal 27 November 2011, penanggalan Hijriah telah memasuki 1 Muharam 1433. Artinya penanggalan Hijriah yang didasarkan pada peredaran bulan telah memasuki tahun baru. Berdasarkan hal ini, banyak kalangan kaum muslimin yang memperingatinya sebagai tahun baru Islam, walaupun tak sedikit yang melarangnya karena dipandang sebagai aktivitas bid’ah (tak memiliki pijakan dalil dan tak dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw).Terlepas dari kontroversi bid’ah-tidaknya peringatan tahun baru Hijriah ini, yang lebih penting adalah merenungkan kembali makna dan spirit Hijrah yang telah dilakukan Nabi beserta para sahabat serta mengkontekstualisasikannya di tengah peta situasi saat ini.

Berkaitan dengan makna Hijrah, Quraish Shihab dalam karyanya yang monumental,Tafsir al-Mishbah, memberikan penjelasan leksikal yang sangat menarik. Menurutnya, hijrah berasal dari kata kerja hajara yang berarti meninggalkan. Kata ini digunakan untuk menggambarkan “sikap meninggalkan sesuatu karena kebencian kepadanya”. Makna inilah yang dipraktekkan Nabi dan para sahabat saat melakukan hijrah dengan meninggalkan Kota Mekkah atas dasar ketidaksenangan terhadap sikap penduduknya yang melakukan kemusyrikan dan merendahkan kemanusiaan. Dalam bahasa Arab klasik dikenal kata hajirah yang berarti “tengah hari”. Kata ini mereka gunakan karena meninggalkan segala bentuk pekerjaan akibat teriknya panas matahari yang tak mereka senangi. Demikian tulis mufasir yang menyelesaikan studi doktor di Universitas al-Azhar Mesir yang termasyhur itu.
Dalam kitab suci al-Qur’an, sebagaimana dicatat dan dihimpun oleh Muhamad Fuad Abdul Baqi dalam Mu’jam Mufahras li Alfadzil Qur’anil Karim, kata-kata hijrah dalam berbagai bentuk dan derivasinya (tashrif) tercatat sebanyak 17 kali.
Sebenarnya, perintah hijrah yang bermakna non-fisik telah diperintahkan kepada Nabi Muhammad di masa pertama kenabiannya. Hal ini dapat  ditemukan dalam wahyu-wahyu awal sebagaimana terekam dalam surat al-Muzammil [73]:10 dan al-Mudatstsir [74]: 5. Tiga belas tahun kemudian, Nabi dan para sahabat diperintahkan melakukan hijrah fisik demi menyelamatkan iman mereka dari gangguan masyarakat Mekkah. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas hijrah, baik dalam arti fisik atau pun non-fisik merupakan konsep yang sangat penting dalam struktur ajaran agama.
Agama, sebagaimana dijelaskan Nurcholish Madjid (Cak Nur), selalu dilukiskan sebagai jalan. Konsep-konsep seperti syari’ah, thariqah, shirath, manhaj dan maslak yang mewakili kata lain dari agama, semuanya memiliki arti jalan. Salah satu korelasi yang paling kuat dengan pengertian jalan adalah gerak. Orang yang berada di jalan haruslah bergerak. Orang yang berhenti di jalan berarti menyalahi sifat dasar jalan itu sendiri. Oleh karena itu, orang Islam harus bergerak dan dinamis. Hal itu dinyatakan dengan sangat jelas dalam peristiwa hijrah. Demikian uraian cendekiawan muslim yang meninggal pada 29 Agustus 2005 itu.
Berbeda dengan Isra dan Mi’raj yang bersifat supra-rasional, hijrah adalah peristiwa historis yang sangat manusiawi karena dalam peristiwa itu diniscayakan kematangan strategi dan taktis  yang didasarkan pada visi jangka panjang yang dirancang oleh Rasulullah saw beserta para sahabat.
Sesampainya di Kota Yatsrib (Yunani: Yatsrobah) Nabi Muhammad kemudian melakukan banyak langkah penting guna memulai titik balik kemajuan Islam sebagai agama peradaban. Di antara langkah penting yang dilakukan Nabi adalah membangun masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, mengubah nama Kota Yatsrib menjadi Kota Madinah, membuat kesepakatan sosial-politik dengan suku-suku Yahudi yang mendiami wilayah itu, dan lain sebagainya.
Melalui hijrah itulah Nabi Muhammad membangun masyarakat Madinah yang berciri egaliterianisme, penghargaan berdasarkan prestasi bukan prestise, keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan penentuan kepemimpinan melalui pemilihan, bukan berdasarkan keturunan. Demikian kurang lebih penjelasan Cak Nur.
Dari tanah inilah Islam berkembang menjadi sebuah peradaban besar. Hal ini terbukti ketika Nabi wafat, hampir seluruh jazirah Arab telah tunduk di bawah kendalinya. Apalagi jika diteruskan ke masa sahabat (al-Khulafa al-Rasyidun), Islam telah meliputi wilayah-wilayah yang menjadi pusat peradaban manusia.
Hal tersebut di atas itulah yang sesungguhnya menginspirasi Umar bin Khatab, dalam sebuah forum musyawarah penting untuk menetapkan hijrah sebagai permulaan penanggalan kalender Islam.
Pada awalnya, dalam forum itu muncul berbagai gagasan, salah satunya adalah menetapkan tahun baru Islam yang dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tetapi sahabat Nabi yang jenius itu tak menyepakatinya berdasarkan dua pertimbangan rasional; pertama, sistem penanggalan yang dimulai dengan kelahiran Nabi berpotensi melahirkan kultus terhadap sosok Rasulullah. Hal inilah yang terjadi dalam tradisi agama-agama selain Islam terutama Kristen. Umar melilhat bahwa peristiwa hijrah jauh lebih masuk akal, karena akan melahirkan kesadaran kolektif mengenai perubahan yang dicita-citakan bersama. Kedua, kelahiran Nabi adalah sebuah pemberian (given), sementara hijrah adalah sesuatu yang diusahakan. Ajaran Islam dengan sangat jelas menegaskan bahwa Allah hanya akan menilai usaha yang dilakukan manusia, bukan apa yang dimilikinya sejak lahir.
Ijtihad Umar bin Khatab berupa sistem penanggalan hijriah itu masih terus bertahan sampai sekarang dan digunakan di (hampir) semua masyarakat muslim dunia saat ini.
Dari pemaparan di atas, banyak pelajaran yang bisa dipetik untuk kita terapkan dalam kehidupan masyarakat kini dan di sini demi mencapai perubahan yang dicita-citakan.
Pelajaran pertama adalah bahwa kita harus memiliki tekad yang kuat untuk meninggalkan berbagai hal yang tak disukai (ditentang) baik oleh ajaran agama maupun nilai-nilai kemanusiaan. Hal tersebut dapat mewujud dalam berbagai bentuk seperti korupsi, menindas sesama manusia, menipu, berbohong, merampas hak orang lain, dan masih banyak yang lain.
Kedua, masyarakat harus memiliki sikap dinamis dalam merespon perubahan zaman demi mencapai visi bersama yang dicita-citakan. Sikap dinamis itu dimanifestasikan dengan cara mengambil hal terbaik dari masa kini sambil tetap mempertahankan warisan terbaik dari masa lalu.
Ketiga, bahwa perubahan yang dicita-citakan itu harus didasarkan kepada arah dan tujuan (visi) yang jelas. Visi itu kemudian harus dilengkapi dengan kematangan strategi dan taktik supaya gagasan-gagasan yang besar dapat diterjemahkan ke dalam dunia nyata.
Keempat, untuk menuju perubahan yang dicita-citakan, nilai-nilai spiritual menjadi suatu keniscayaan yang harus dibina. Spiritualitas adalah sisi yang paling dalam dari diri manusia sebagai agen perubahan. Oleh karena itu, jika spiritualitas tak mendapatkan tempat dalam diskursus perubahan, maka bisa dipastikan perubahan itu hanya bersifat semu dan tak bermakna.
Kelima,  perubahan yang dicita-citakan tak akan terjadi apabila kohesi sosial dalam masyarakat tak tercipta. Berdasarkan hal inilah, perbedaan-perbedaan artifisial tak boleh menghalangi kita untuk  bergerak menuju tujuan bersama. Perbedaan suku, ras, kelas sosial, bahkan agama, tak boleh menjadikan masyarakat terpecah karena ia adalah modal sosial untuk membangun kemajuan.
Keenam, sudah saatnya kita memberikan penghargaan kepada sesama (terutama dalam konteks menjadikannya pemimpin) berdasarkan prestasi (al-A’mâl) yang telah dicapainya, dan bukan berdasarkan prestise apalagi keturunannya (al-Ansâb). Inilah dasar dari prinsip meritokrasi yang sudah diajarkan Nabi melalui peristiwa hijrah.
Ketujuh, yang paling penting dari itu bahwa perubahan harus dipimpin seorang yang memiliki kemampuan memberikan contoh dalam hal bagaimana perubahan itu dijalankan. Kemampuan inilah yang dimiliki Nabi Muhammad Saw dalam memimpin masyarakat Madinah untuk menuju perubahan.
Di atas semua itu, proses hijrah harus kita lakukan demi menuju perubahan yang dicita-citakan bersama. Karena hanya dengan hijrah-lah kita dapat mencapai tujuan sosial dari kehidupan beragama dan berbangsa yaitu menciptakan kehidupan yang beradab dengan seluruh manusia dimuliakan berdasarkan prestasi yang dilakukannya.
Ali Syari’ati, seorang sosiolog muslim kelahiran Iran, menegaskan bahwa di balik seluruh peradaban besar tersimpan konsep hijrah yang mendasarinya. Oleh sebab itu, apabila bangsa ini mau menjadi bangsa yang besar, mau tak mau kita harus melakukan hijrah sekarang juga.
[Parid Ridwanuddin; Mahasiswa Pasca Sarjana The Islamic College – Universitas Paramadina]

0 komentar:

Posting Komentar

Link ke berbagai situs yang terkait dengan penyediaan informasi teknologi pertanian

maher zein

Loading...

Video kesenian minang

Loading...

Waroeng Serunai


Try Relay: the free SMS and picture text app for iPhone.